3G (Gading-Gading Ganesha)

Suatu Karya Industri Kreative untuk Indonesia

08 Mei 2009

Cover Novel 3G dan Testimony

Diposting oleh Ganesha Creatives Industry Group



Novel sudah Terbit tgl 4 Juni 2009
Harga Novel Rp 59.000 ditambah ongkos kirim
Pemesanan Novel bisa email ke pib@inkubator.itb.ac.id, cc 3g.officer@gmail.com
Telp 022-2501006 atau di toko online www.tokoganesha.com
Penerbit Ganesha Creative Industry Bekerja sama dengan Mizan



Testimony, Apresiasi para Pembaca untuk buku Gading-gading Ganesha :

“Isinya sangat aspiratif, memiliki maksa filosofi yang luar biasa sehingga termotivasi untuk pergi ke perguruan tinggi sang Ganesha. Disertai dengan kata-kata bijak setiap chapternya, membuat saya semakin terdorong untuk berjuang agar dapat berkuliah di ITB. Semoga buku ini dapat membuat masyarakat Indonesia mengetahui betapa besar perjuangan yang diperlukan untuk menuju ITB”
-Pratama Havidia Rahman, pelajar SMA 3 Bandung

“Novel yang menggelitik dari segi humanis & semoga memberikan inspirasi bagi insan ITB bahwa mereka juga manusia biasa yang dapat mengalami pasang surut dalam mengarungi kehidupan dan tidak terus terbuai, hidup dalam dunia ‘awang-awang’ pribadi karena ke-ITB-annya”.
-Tuning Hendrastuti, alumni UGM & PPM, praktisi lembaga keuangan

“….seru banget ceritanya! Gak secara langsung ngedikte, tapi tetep dapet pelajaran hidup yang ngena banget…. Jadi pengen juga bikin novel yang bisa jadi inspirasi buat mahasiswa, ya, hehehe….”
-Priscillia Audy, mahasiswi FE UNPAD 2007

“Kala sebagai Rektor ITB, saya beranjangsana ke Pesantren Rancabango, Garut, dan dalam kata sambutannya, Sang Kyai pemimpin Ponpres, menyampaikan kalimat singkat yang mengandung pesan dan sindiran halus, yaitu “Hendaknya warga kampus dan alumninya itu senantiasa menjunjung dua nilai luhur, yaitu kahartos lan karaos bagi masyarakat”. Pesan singkat agar dimengerti dan bermanfaat ini sejatinya adalah manifesto dari tridarma ITB. Saya bahagia menyambut terbitnya novel Mas Dermawan Wibisono berjudul 3G – Gading-gading Ganesha – ini jelas sejalan dengan pesan sang Kiai pada kita semua. Kain batik hadiah Ibunda tercinta kini bermetafora menjadi sebuah 3G. The best is yet to come.”
-Kusmayanto Kadiman, Rektor ITB 2001–2004,
Menteri Riset dan Teknologi 2004-2009

“Inovasi dan inspirasi adalah dua hal yang saling berpautan satu sama lain. Tiada inovasi tanpa inspirasi, dan inovasi yang tercipta seharusnya menjadi sumber inspirasi bagi orang-orang cerdas untuk memicu inovasi yang baru. Novel Gading-gading Ganesha sarat dengan inspirasi yang akan memantik beragam inovasi kreatif dan menghadirkan gelora hidup penuh makna bagi siapa saja yang membacanya. Memang tidak gampang untuk mempresentasikan sosok mahasiswa dan alumni ITB. Mereka adalah pribad-pribadi yang datang dari berbagai latar belakang sosial budaya dan kehidupan ekonomi. Namun, percayalah, satu kesamaan yang kritris dan mandiri, penuh percaya diri (acap kali sangat tinggi), cinta almamater, bangsa, dan Negara. Semoga kita dapat bercermin dari apa yang ditampilkan dalam Gading-gading Ganesha”
-Ir. Hatta Radjasa, Ketua IKatan Alumni ITB 2008-2013,
Menteri Perhubungan 2004–2006,
Menteri Sekretaris Negara 2006-2009

“Buku ini menyadarkan bahwa Kampus bukan sekedar tempat menimba ilmu, melainkan juga untuk membangun karakter yang tangguh dan pantang menyerah. Kemiskinan tidak boleh dijadikan alasan untuk mengahalangi kemajuan sepanjang berpikir positif dijadikan modal hidup.”
-Ir. Jero Wacik, S.E.Tebal, Menteri Kebudayaan dan Pariwisata

“Membaca 3G ini seperti merefleksikan perjalanan hidup kita di ITB dengan segala dinamikanya yang membentuk kepribadian alumnus ITB dalam berkiprah di masyarakat. Harapan kita adalah agar karya Dr. Dermawan Wibisono ini dapat memberi inspirasi bagi kemajuan civitas academica ITB dalam memajukan ITB dan Republik tercinta.”
-Rinaldi Firmansyah, Direktur Utama PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk.

“Novel 3G mengandung unsur pembelajaran berupa bagaimana tolerasi antara budaya, yaitu antara suku Batak, Sunda, Jawa dan budaya kota besar (Jakarta) harus dijalankan pada saat kuliah di ITB. Pendidikan karakter juga tercermin di dalamnya ketika mahasiswa ITB dididik untuk bermartabat, bersaudara, berbeda pendapat, bersaing….. termasuk bersaing untuk mendapatkan seorang wanita. Satu hal yang perlu diangkat dari novel 3G bahwa tidak semua lulusan ITB sukses, kegagalan mungkin terjadi pada siapa pun tak terkecuali juga lulusan ITB. Namun lulusan ITB tetap tegar dalam menghadapi kegagalan.”
-Prof. Ir. Sofia W. Alisjahbana, M.Sc., Ph.D,
Wakil Rektor Bidang Akademik, Universitas Tarumanagara

“Sebuah novel yang membawa pembaca pada situasi kehidupan di sebuah kampus pada penggal waktu 1980-an, dengan segala dinamikanya: perjuangan, keberpihakan kepada mereka yang tertindas, mimpi dan harapan, dan-diatas semua itu-persahabatan dan cinta yang memberi penegasan bahwa hidup bukanlah sebuah kesia-siaan.”
-Arya Gunawan, Kritikus Film dan Script Writer

“Novel yang bagus sekali, menyentuh, dengan message yang kuat. Penulis mengangkat periode waktu kehidupan di kampus yang dialaminya, yang walaupun berbeda dengan era sebelum dan sesuahnya, dapat menjadi representasi dari sikap kepekaan/kepedulian mahasiswa terhadap kondisi, baik nasional maupun global, di setiap zamannya. Untuk kekinian dan visi ke depan, merupakan penggalian yang serasa satu irama dengan napas anak bangsa.”
-Budiyati Abiyoga, Produser Film

“Novel inspiratif dan memotivasi. Wilayah yang jarang digarap penulis lain.”
-Hermawan Aksan, Wartawan Tribun

“Sebagai suatu karya sastra, Gading-gading Ganesha memberitahukan kepada para pembacanya nilai-nilai ITB: keunggulan, kepeloporan dan pengabdian, yang menjadi karakter manusia-manusia ITB, dibentuk di dalam kampus jalan Ganesha No. 10 Bandung. Nilai-nilai tersebut dipandu oleh suatu proses yang sarat dengan berbagai sifat yang sangat khas dari Kampus ITB, yang melibatkan secara kolektif semua pelaku ITB, yang kemudian menjadi kultur dan tradisi berkompetisi di dalam sifat keberagaman multidimensi. Selain perlu dibaca siapa pun yang ingin mengetahui ITB, Gading-gading Ganesha juga sangat penting untuk dibaca oleh setiap pelaku ITB, mulai dari mahasiswa, para dosen, peneliti, hingga para pejabat penyelenggara ITB, guna manahami peran masing-masing dalam keikutsertaan membentuk nilai-nilai ITB. Dengan memahami peran dan menyadari pula pengembangan ilmu pengetahuan serta pusat pengembangan budaya bangsa Indonesia, diharapkan setiap pelaku ITB mampu memberikan sumbangan yang lebih bermaksa dalam meningkatkan kulaitas nilai-nilai ITB bagi perwujudan cita-cita kemerdekaan bangsa Indonesia di dalam tantangannya yang berkembang. Selamat kepada berbagai pihak yang telah ikut serta dalam penerbitan buku yang sangat indah ini.”
-Harijono A. Tjokronegoro, Ketua Majelis Guru Besar ITB

“Industri kreatif terus tumbuh di berbagai Negara, termasuk Indonesia, dengan kontribusi ekonomi yang bermakna. Banyak kajian ilmiah tentang industri kreatif telah dilakukan para pakar dan pengamat, dari kampus maupun masyarakat. Namun, tidak banyak yang beranjak dari sekedar sisi konseptual dan pemikiran di atas kertas dan disampaikan ke media massa. Novel dan film 3G ini memperlihatkan bagaimana insan Ganesha ITB merespons sebuah momen berskala bangsa dengan sebuah karya nyata hasil sinergi dari berbagai elemen unggul yang dihasilkannya. Ternyata anggapan selama ini yang melekat pada diri lulusan ITB, sebagai figur yang individualistis, sulit bekerjasama (terutama dengan sesama alumninya), tidak memiliki sense of humanity, dan berpikir sangat mekanistis, tidak lagi berlaku dan tidak selayaknya terus dipelihara. Novel dan film 3G inilah salah satu buktinya.
-Prof. Djoko Santoso, Rektor ITB 2004-2009

Batik 3G -1

Diposting oleh Ganesha Creatives Industry Group



BATIK 3G





Batik 3G-1 harga Rp 350.000 ditambah ongkos kirim. Bisa pesan ke pib@inkubator.itb.ac.id
cc; 3g.officer@gmail.com telpon 022-2501006 atau secara on line di www.tokoganesha.com



02 Mei 2009

Latar Belakang Film 3G

Diposting oleh Ganesha Creatives Industry Group

Banyak kalangan prihatin dengan kondisi krisis global yang diperkirakan akan berlangsung 5-10 tahun ke depan yang dipicu oleh krisis ekonomi Amerika Serikat yang kemudian berimbas ke seluruh dunia. Dalam menangani krisis ini berbagai kebijakan dan stimulus finansial dan moneter diluncurkan oleh pemerintahan berbagai negara tidak terkecuali Indonesia, di mana semua pihak harap-harap cemas menunggu kemujaraban berbagai langkah tersebut. Merunut ke belakang, krisis yang dialami Indonesia ini merupakan kali kedua setelah terjadinya krisis Asia Tenggara pada tahun 1997-1998 yang berlangsung sampai saat ini. Akibat krisis 1997-1998 tersebut Indonesia yang semula diramalkan akan menjadi salah satu macan Asia terpuruk dan paling terbelakang dalam melakukan recovery dibandingkan dengan Malaysia, Singapura, Thailand dan negara lain.

Pokok permasalahan dari kedua krisis besar yang melanda dunia dan khususnya Indonesia tersebut diakibatkan oleh perilaku economic animal yang serakah, tidak mengindahkan etika bisnis, budaya konsumerisme, ditambah dengan lemahnya kepemimpinan pada berbagai level pemerintahan, organisasi maupun perusahaan. Singkat kata dapat dikatakan character building yang pernah dicanangkan founding father dan seharusnya menjadi soko guru perkembangan bangsa dan negara, tidak terbentuk sebagaimana mestinya. Krisis yang semula hanya menyangkut bidang ekonomi berkembang menjadi krisis multi dimensi yang menggerus moral, tatanan kehidupan dan nilai-nilai yang diacu dan dijalankan masyarakat.

Pembangunan karakter bangsa yang menyangkut kejujuran, emphaty, kesabaran, ketabahan, kreativitas, daya juang, kepeloporan, keikhlasan, fairness dalam berkompetisi, dan nasionalisme akhirnya disadari oleh banyak kalangan merupakan prioritas yang tak dapat ditawar lagi untuk dapat segera dibenahi dalam rangka mengatasi krisis multi dimensi tersebut dan mendukung daya saing bangsa. Sebagai masyarakat paternalistik, di mana contoh merupakan hal yang paling efektif dalam proses memberikan kesadaran dan pembelajaran, maka film merupakan salah satu media yang diyakini akan memberikan pengaruh yang signifikan. Di tengah langkanya film nasional yang berkualitas yang mengetengahkan pembangunan karakter bangsa tersebut, alumni ITB angkatan 81 tergerak untuk menjadi pelopor dengan mempersembahkan film yang berjudul 3G (Gading-Gading Ganesha). Bekerjasama dengan berbagai kalangan yang terdiri dari alumni ITB berbagai angkatan yang berkiprah di berbagai bidang usaha, pemerintahan, seni dan budaya serta para praktisi perfilman nasional, film 3G diharapkan dapat menjadi oase bagi pemenuhan dahaga akan kesuritauladanan segenap lapisan masyarakat.

Film 3G tidak dimaksudkan sebagai sebuah propaganda atau biografi tokoh tertentu dan tidak mengusung tendensi apapun tetapi lebih fokus pada aspek kejuangan dengan memotret perjalanan hidup sekelompok anak manusia yang sabar, ulet, tekun, dan tabah dalam mengejar cita-cita dan kesadaran untuk berkontribusi bagi kemajuan bangsa. Film ini juga tidak mendudukkan tokoh-tokohnya sebagai superhero yang luput dari cacat-cela dan kelemahan sebagai manusia. Latar belakang ITB dalam film ini dimaksudkan untuk mengambil spirit dari salah satu universitas terbaik di Indonesia, di mana dengan lingkungan pendidikan yang kondusif dan komprehensif, kualitas mahasiswa dan dosen yang tinggi, serta interaksi yang dibangun dengan pihak luar yang begitu intens merupakan kekuatan utama dalam menunjang pembangunan watak lulusan yang dihasilkan. Setting ITB hanya merupakan sebuah kebutuhan penceritaan, kisah-kisah yang dialami dan dipaparkan dalam film ini dapat terjadi di mana saja di dunia dan setting tahun kejadian dapat digeneralisir dari generasi ke generasi. Akhirnya, film 3G diproduksi sebagai persembahan cinta alumninya untuk ulang tahun ITB yang ke lima puluh dan insya Allah dapat memantik api semangat di dada seluruh anak bangsa menuju kesejahteraan bersama. Biar bumi berguncang, kau tetap Indonesiaku!

Sinopsis Novel Gading-Gading Ganesha

Diposting oleh Ganesha Creatives Industry Group

Novel 3G merupakan mozaik perjalanan hidup enam anak manusia berlatar belakang etnik yang beragam. Ke enam tokoh dalam cerita tersebut adalah Slamet (Trenggalek), Fuad (Surabaya), Poltak (Siantar), Gun Gun (Ciamis), Ria (Padang) dan Benny (Jakarta) yang dipersatukan saat keenamnya masuk pada tahun yang sama untuk menempuh study di perguruan tinggi yang sama, ITB.

Slamet adalah putra Trenggalek pertama yang sanggup menembus ITB. Dia berangkat ke Bandung dengan kereta api klutuk, kereta api kelas paling murah dan itulah kali pertama dia naik kereta api, bercampur dengan para pedagang, buruh, ayam, pindang, dan telor asin. Sesampai di Bandung, saat menuju ke ITB, Slamet tersesat ke sana kemari dan harus tidur di mesjid Salman semalam, menjelang pendaftaran yang harus dia lakukan, karena tidak memiliki seorang saudarapun di Bandung. Slamet yang berasal dari desa mengalami inferior kompleks pada awal-awal perkuliahannya, namun gemblengan di ITB membuat dia kuat dan lulus tercepat dengan Indeks Prestasi terbaik dibandingkan dengan ke lima kawannya. Setelah lulus kuliah, Slamet bekerja di Jakarta, namun tidak bertahan lama karena perang batin terhadap praktik-praktik bisnis kotor, dan akhirnya kembali ke almamaternya menjadi dosen. Slamet yang semula ingin melabuhkan asamaranya pada seorang gadis kaya, karena pertimbangan brain, beauty, body dan materi, akhirnya justru memilih gadis sedesanya yang lebih memberikan ketentraman hati. Slamet melanjutkan kuliah sampai selesai S3 ke Australia, di mana dia sempat beberapa saat berkumpul kembali dengan sahabat-sahabatnya itu di kota Melbourne yang kebetulan berada pada kota yang sama pada periode waktu tertentu untuk masing-masing urusan yang berbeda. Kemiskinan tak menyurutkan langkahnya untuk mencapai level pendidikan tertinggi. Intelektualitas yang dimiliki tak mencabutnya dari akar budaya dan agama yang luhur. Bumi ganesha mendidiknya menjadi orang yang berkarakter.

Fuad asli Surabaya keturunan Arab-Madura, adalah seorang yang sangat percaya diri dan dari sononya memiliki gen keturunan ahli dagang. Sejak hari pertama penerimaan mahasiswa baru, Fuad yakin bahwa di ITB inilah dia mendapatkan muara bagi pengembangan minat politiknya. Fuad yang sangat itungan dan pelit itu kemudian tenggelam dalam eforia politik praktis dan sempat ditangkap dan dipenjara Poltabes, digebuki. Musibah menimpa keluarga Fuad, rumah orang tuanya ludes terbakar, dan tak sanggup membiayai lagi kuliah Fuad. Fuad harus kerja serabutan, dan akhirnya mendapatkan pekerjaan yang cukup mapan saat kuliahnya belum selesai. Bisnis Fuad lancar dan karirnya melaju, namun studynya tak tertolong, Fuad drop out dari ITB. Pasang surut yang dialami membuat hidup Fuad penuh fluktuasi termasuk dalam prinsip-prinsip yang dia pegang. Pada suatu titik akhirnya memberikan kesadaran pada diri Fuad pula, bahwa ada hal lebih besar yang dapat dia kontribusikan. Drop out dari kuliah, rumah orang tuanya yang hangus terbakar, harus berdikari di usia yang begitu muda tak membuatnya terbuang dari kancah persaingan. ITB membekali dirinya dengan daya juang dan daya tahan yang tiada duanya.

Poltak, mahasiswa asal Siantar yang dalam perjalanannya dari daerah asalnya ke Bandung naik bis Lintas Sumatra, berniat akan memperbaiki jalanan yang mirip kubangan kerbau sepanjang Siantar -Merak setelah lulus dari Teknik Sipil ITB. Namun karena dorongan kebutuhan yang mendesak saat kuliah dan justru mendapatkan dunia lain yang lebih menarik baginya, dia justru tidak mengabdikan ilmunya di Teknik Sipil, melainkan menjadi event organizer yang kemudian justru membesarkan namanya pada awal-awal membuka usahanya. Poltak yang pandai bicara itu menjadi pengusaha yang sukses berkat kemampuannya membangun jaringan dan rasa setiakawannya yang begitu kuat, serta emphatynya bagi orang-orang yang kurang beruntung. Poltak menjadi pengusaha sukses yang mau berbagi dan peduli pada nasib rakyat banyak. Kekurangan secara ekonomi tak harus membuatnya kehilangan kreativitas. Kemakmuran yang kemudian dicapai tak harus membuatnya lupa akan asalnya. Cobaan yang dialaminya istrinya yang nyaris dijebloskan penjara di luar negeri disikapi dengan kesabaran. Lingkungan pendidikan di ITB membekalinya untuk selalu bersikap seimbang dan tidak menjadikannya binatang ekonomi.

Benny, seorang anak mami dari Jakarta yang sekolah ke ITB karena dipaksa kedua orang tuanya, bukan karena kemauannya sendiri. Benny adalah potret seorang anak yang sejak kecil diplot dan dijadikan projek bagi kedua orang tuanya. Selesai kuliah yang ditempuhnya dalam waktu maksimal, 7.5 tahun, dia menyerahkan ijazah yang sudah diraihnya kepada kedua orang tuanya, dan menekuni musik yang menjadi hobbynya. Saat kuliah, sikap bossy kedua orang tuanya menurun kepada Benny dalam beberapa hal, misalnya dia akan dengan senang hati mensub-kontrakan tugas-tugas kuliahnya kepada teman-temannya dengan sekedar mentraktir makan, nonton film atau meminjamkan komputernya. Benny yang flamboyan, terbentur kenyataan bahwa Ria yang ditaksirnya ternyata menolaknya dan membuat Benny tidak pernah serius membina hubungan dengan wanita sampai kemudian menyadari bahwa usia telah merenggut masa mudanya. Pergaulannya dengan Slamet, Fuad, Gun Gun dan Poltak dari kelas menengah ke bawah, membuat Benny pada akhirnya berubah menjadi lebih matang, simpati dan memilki karakter. Manusia dapat berubah seiring dengan usia dan dengan siapa dia bergaul dalam waktu yang intens. Lingkungan ITB memberinya kesadaran bahwa masih banyak orang yang kurang beruntung di banding dengan dirinya dan lebih banyak lagi orang yang lebih sukses di banding dirinya. Menjadi orang simpati akan lebih memudahkan segala urusan. Jadi tak ada lagi gunannya bersikap sombong dan bossy.

Gun-gun, mahasiswa dari Ciamis yang sangat stereotype sebagai orang Sunda yang merasa berada di comfort zone tanah kelahirannya, dan tidak berniat ke luar dari Bandung apapun yang terjadi. Walau Galunggung dan Tangkuban Prau meletus beribu kali,Bandung tetaplah tempat berpijaknya. Setelah lulus dan bekerja di BUMN, Gun Gun sempat sekolah S2 ke luar negeri dengan beasiswa dari grantt pemerintah Australia. Di luar negeri, Gun Gun mengalami gegar budaya, dia yang semula relegius kemudian justru tersangkut membina hubungan dengan wanita Thailand. Istrinya yang ditinggalnya di tanah air, karena beasiswanya tak cukup, membuat Gun Gun kesepian dan akhirnya tertambat serta terhempaskan oleh wanita Thailand itu. Kesadarannya timbul saat istri dan putri tunggalnya meninggal dunia terkena wabah demam berdarah saat kuliah S2 Gun Gun belum selesai. Sekembali ke Indonesia, krisis moneter terjadi, perusahaannya bangkrut dan Gun Gun terkena PHK. Berkat bantuan dan jaringan pertemanan yang dibina dengan saling percaya dan saling membantu, Gun Gun tetap kokoh bahkan merintis usahanya sendiri selepas PHK, menjadi manusia yang merdeka. Ditinggal mati keluarga, perusahaan tempat bekerja bangkrut dan dia di-PHK tak membuat Gun Gun nglokro, lemas tak berdaya, tapi justru membuatnya semakin tegar. Alumni ganesha harus kuat dan tak mudah menyerah.

Ria, gadis Padang jelita yang menjadi bunga kampus, rebutan dari hampir semua orang dan empat sekawan kos yang hanya berani berangan-angan itu, seorang tomboy yang ternyata hatinya sangat lembut dan rapuh. Karena begitu cantik, pandai dan serba berkecukupan, malah tak ada seorangpun yang berani mendekatinya, sampai kemudian di usianya yang sudah tidak muda lagi, betul-betul terpanah oleh busur asmara yang dilontarkan seorang cleaning service di tempat kerjanya. Ria yang semula sudah tidak terlalu peduli lagi dengan kehidupan berumah tangga, justru mendapatkan kembali aura semangatnya semasa mahasiswi dulu. Hidup menjadi begitu indah dan bergairah baginya, apalagi saat mendapati bahwa dirinya tak bertepuk sebelah tangan. Namun malang tak dapat ditolak, lelaki yang dicintainya meninggal dunia karena penyakit Lupus sebelum naik ke pelaminan dengannya. Akhirnya kesadaran bahwa lebih bak dicintai dari pada mencintai dan bahwa wanita di usia tak muda lagi lebih mengetengahkan logika dari pada emosi dalam perjodohannya membuat Ria menerima cinta Benny yang setia menunggunya dan memilih tidak menikah jika tidak dengan Ria. Allah tak selalu menguji dengan kekurangan. Manusia biasanya sukses dalam mengadapi ujian akan kegagalan tapi justru gagal jika diuji dengan kesuksesan. Ria yag memiliki segalanya, cantik, pintar, kaya, merupakan sosok langka yang sukses menghadapi ujian jenis yang kedua tersebut. ITB memberikan bekal yang cukup untuk bersikap tabah, sabar, tawadu, dan namun tetap terus gigih berusaha, rasional dan realistis.

Kisah yang dimulai dengan keberangkatan masing-masing tokoh dari daerah asalnya, diikuti dengan berbagai pergulatan hidup dan konflik batin pada diri masing-masing tokoh tersebut, akhirnya diakhiri dengan pertemuan kembali 25 tahun kemudian dengan satu kesadaran yang kembali mereka temukan. Cita-cita yang melambung tinggi serta harapan yang menggunung dari orang tua masing-masing, saudara dan masyarakat sejenak terlupakan karena kesibukan mencari materi dan survive dalam kehidupan penuh konsumersime. Dalam pertemuan kembali setelah terpisah 25 tahun tersebut, mereka menghitung kembali bahwa sudah terlalu banyak nikmat diserap, melewati titik nol atau bahkan minus saat mereka masuk ITB, banyak waktu tersia-siakan oleh kesibukan yang self interest dan ternyata tidak banyak karya nyata dan kontribusi mereka berikan ke masyarakat dan kepada bangsa yang telah mensubsidi sekolah mereka. Timbul kesadaran untuk membangun negeri dengan menjadi pelopor membangun jaringan seluruh alumni dan orang-orang yang sepaham dari berbagai universitas untuk membuat karya nyata, menanggalkan primordialisme baju alumni, dengan satu tekad: kelas menengah adalah agen perubahan di manapun di dunia ini. Perubahan kepemimpinan dunia kepada tokoh-tokoh yang berkarakter semacam Ahmad Dinejad Presiden Iran, Barack Obama Presiden Amerika Serikat, Che Guevara Presiden Kuba, dan sepak terjang Muhammad Yunus Pemenang Nobel dengan Grameen Banknya memberikan inspirasi untuk meretas kembali jalan membangun pengabdian kepada bangsa di usia emas mereka. Mengingatkan bahwa sejarah pernah mereka buat di masa mahasiwa dulu, yang mungkin kini terlupakan. Hidup tak dapat diputar ulang, sekali berarti sesudah itu mati!


Pesan Moral:

Pesan moral yang ingin disampaikan dalam film ini adalah:

1. Allah tak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu mengubahnya sendiri

2. Kaum muda dan kelas menengah memilki potensi yang dahsyat untuk menjadi agen perubahan bagi peningkatan daya saing bangsa.

3. Pada suatu titik, manusia tidak lagi dinilai dari apa yang dia miliki tetapi apa yang dia kontribusikan kepada sesamanya dan bagaimana menjadi rahmatan lil alamin

4. Bangsa yang berkarakter lah yang akhirnya akan mampu bersaing.

5. Pendidikan yang menyeimbangkan aspek intelektualitas, emotional dan spiritual lah yang pada akhirnya akan melahirkan manusia unggul.